29 April 2011

Forum Muslim Tanpa Nama Islam

Suatu sore, tiga orang aktivis muda, Bambang, Totok dan Khoirul menghadap Guru Sufi . Mereka meminta restu sekaligus barokah doa untuk membentuk forum persaudaraan muslim yang dinamai FORUM SOLIDARITAS ISLAM, yang bertujuan menggalang solidaritas kaum muslimin dalam menghadapi gelombang globalisasi yang akan menghilangkan identitas etnis, budaya, bahasa, agama, bahkan teritorial negara. Namun jauh dari harapan mereka bertiga, Guru Sufi justru tidak sepakat dengan penyertaan nama ISLAM dari forum itu. Guru Sufi menyarankan, agar mereka mencari nama lain yang representatif mewakili Keislaman.

Curiga ada agenda tersembunyi di balik penolakan Guru Sufi terhadap nama Islam, Totok menyoal latar ditolaknya sebutan Islam dalam menamai forum. “Apakah penolakan Mbah Kyai tidak berkaitan dengan Islamophobia?” tanya Totok minta penegasan, yang disusul pertanyaan Bambang dan Khoirul,”Kami hanya mohon penjelasan, Mbah Kyai, untuk memberi alasan kepada teman-teman jika mereka nanti bertanya tentang digantikannya nama Islam pada forum ini.”

Dengan sabar Guru Sufi balik bertanya,”Apakah kalian bertiga sudah membaca buku yang ditulis Samuel P. Huntington yang berjudul The Clash of Civilizations And The Remaking of World Order?”

“Belum Mbah Kyai,” sahut Bambang dan Totok, tetapi Khoirul mengaku sudah membacanya.

“Apakah kalian bertiga sudah mengetahui sosio-psiko linguistik masyarakat Indonesia, baik dari membaca teori maupun dengan meneliti langsung realita di lapangan?” tanya Guru Sufi lagi.

“Kami belum mengetahuinya. Mbah Kyai,” sahut Bambang dan Totok heran,”Dan apa hubungan semua itu dengan nama Islam bagi forum yang akan kami bentuk?”

“Jika Mas Khoirul sudah membaca tulisan Huntington, pasti akan bisa menyimpulkan adanya skenario global untuk menciptakan panggung konflik di era global pasca runtuhnya komunisme dunia. Maksudnya, di era global sekarang ini konflik yang terjadi bukan lagi antara golongan proletar yang diwakili komunis dan golongan borjuis yang diwakili kapitalis, melainkan konflik antara Islam dengan Kristen di satu pihak dan dengan Konghucu di lain pihak. Nah, dengan menangkap makna di balik skenario global yang dilancarkan sejak dasawarsa 1990-an, Islam sudah diposisikan sebagai common enemy bagi seluruh bangsa di dunia,” papar Guru Sufi.

“Jadi, kalau kita memakai nama Islam untuk aktivitas ke luar, sama artinya dengan memberi dukungan bagi skenario Huntington itu Mbah Kyai?” tanya Khoirul ingin penjelasan.

“Ya sudah pasti seperti itu.”

“Lalu alasan sosio-psiko linguistik untuk tidak menggunakan nama ISLAM itu dasarnya apa?” tanya Bambang, Totok dan Khoirul berbarengan.

“Bangsa kita adalah bangsa maritim yang punya sejarah panjang dalam proses menciptakan kosa kata beserta asumsi makna yang menyertainya. Dan sejauh yang aku ketahui, kosa kata yang berakhiran AM, cenderung dimaknai secara negatif sebagai sesuatu yang menakutkan,” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Contohnya apa Mbah Kyai?” tanya Khoirul penasaran.

“Coba kalian deretkan kosa-kosa kata : SelAM, dalAm, karAM, tenggelAM, rendAM, hitAM, malAM, kelAM, surAM, murAM, kusAM, burAM, serAM, kejAM, curAM, tajAM, silAM, dendAM, gendAM, jerAM, pendAM, kecAM, lebAM, tikAM, ancAM, hantAM, gerAM, makAM, jahanAM, dan banyak lagi,” kata Guru Sufi memberi contoh,”Termasuk dengan kata-kata Islam yang sudah terlanjur membentuk asumsi konotatif yang menakutkan bagi masyarakat bangsa kita seperti: Darul Islam/ Tentara Islam (DI/TII), Negara Islam (NII), Brigade Pembela Islam, Forum Masyarakat Islam, Jaringan Liberal Islam, dan lain-lain.”

“Tapi Mbah Kyai,” kata Totok menyela,”Niat kami baik.”

“Aku tahu maksud kalian baik,” kata Guru Sufi,”Kalian ingin menunjukkan identitas Islam di tengah arus globalisasi. Tetapi aku melihat potensi, forum solidaritas yang akan kalian bentuk itu potensial menimbulkan kekerasan dalam mengatasi masalah yang akan bermunculan. Itu sebabnya, aku kurang sepakat. Tapi kalau forum itu untuk kegiatan sosial seperti pendidikan, panti asuhan, panti wredha yang tidak memungkinkan bagi terjadinya kekerasan, tidak masalah kalian menggunakan nama Islam. Kalau untuk forum-2 solidaritas pakai nama yang netral. Soalnya, sekarang ini jangankan bicara tentang solidaritas, orang bicara tentang HAM saja sudah potensial untuk menghadapi kekerasan sampai dikirimi bom. Soalnya, HAM itu kosa kata yang berakhiran AM.”

- agus sunyoto -

Dimaki "Anjing!" Malah Bersyukur

Setelah mendengar ceramah Ustadz Dul Wahab yang membandingkan orang-orang yang memakan secuil harta orang mati seperti anjing, Abab al-Wahab, murid ustadz Dul Wahab dan dua orang temannya, usai shalat Isyak berdiri di depan rumah guru mereka, menunggu orang-orang pulang tahlil memperingati tujuh hari wafatnya Pak Supeno. Ketika melihat Guru Sufi, Dullah, Sufi tua, dan tiga orang santri pulang tahlilan lewat di depan rumah ustadz Dul Wahab, Abab al-Wahab berteriak lantang,”Lihat kawan, ada barisan anjing lewat. Rupanya anjing-anjing ini sangat kekenyangan habis makan tumpeng .”

Terhina gurunya dihina sebagai “anjing makan tumpeng”, D ullah dan tiga orang santri meraung keras dan serentak melompat akan menyerang Abab al-Wahab. Namun Guru Sufi dan Sufi tua buru-buru menghalangi mereka. Dengan suara ditekan tinggi Guru Sufi berkata,”Sudahlah, untuk apa kalian marah?”

“Tapi guru, badui goblok itu menghina guru sebagai anjing. Mana bisa dibiarkan?” sahut Dullah.

“Lha kita semua ini nyatanya masih cinta dunia seperti anjing kok, kenapa kita harus marah disebut anjing?” kata Guru Sufi menyitir Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 176 dan menerjemahkan maknanya,”Orang-orang yang cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya itu, adalah seibarat anjing, dihalau menjulurkan lidah dan dibiarkan pun menjulurkan lidah. Jadi sepanjang kita sadar bahwa hati kita ini masih cenderung kepada duniawi, maka kita sama dengan anjing.”

“Berarti ada anjing teriak anjing, guru?” tanya Dullah menyindir,”Karena badui-badui goblok itu juga cinta dunia. Mereka juga anjing.”

“Sabarlah! Jangan engkau keburu menilai rendah makhluk Allah yang disebut anjing,” kata Guru Sufi dengan suara direndahkan,”Sebab di dalam diri seekor anjing, terdapat sifat-sifat yang harus dimiliki oleh orang beriman terutama yang menjalani laku tasawuf.”

“Orang beriman yang menjalankan laku tasawuf harus memiliki sifat-sifat anjing?” sergah Dullah dengan nada keheranan,”Bagaimana itu penjelasannya, wahai guru?”

“Sufi Hasan al-Bashri telah berwasiat tentang sepuluh sifat di dalam diri anjing yang mesti dimiliki oleh seorang beriman,” kata Guru Sufi menerangkan,”Pertama, anjing suka lapar, di mana itu menjadi kegemaran dan kebiasaan hidup Orang-orang Shalih. Kedua, anjing tidak memiliki tempat tinggal tertentu, di mana hal itu merupakan ciri-ciri dan tanda Orang-orang Tawakkal. Ketiga, anjing tidak tidur pada malam hari kecuali sedikit, itulah tanda-tanda kehidupan para Pecinta Tuhan. Keempat, anjing waktu meninggal dunia tidak meninggalkan warisan, itulah ciri dan tanda Orang-orang Zuhud. Kelima, anjing tidak pernah meninggalkan tuannya meski dihardik dan dijauhi, itulah tanda muriid yang benar dalam kesetiaan kepada gurunya. Keenam, anjing rela ditempatkan di tempat yang paling rendah sekali pun di muka bumi, itulah tanda dan ciri Orang-orang Tawadhu’. Ketujuh, anjing saat diusir dari satu tempat, dia akan meninggalkannya dan pindah ke tempat lain dengan sukarela, itulah tanda dan ciri Orang-orang Ridho. Kedelapan, anjing jika dipukul, diusir, diasingkan, dan dikecewakan, dia menerimanya dengan tulus dan tidak merasa dendam atas apa yang diterimanya, itu adalah tanda dan ciri Orang-orang Khusyuk. Kesembilan, saat makanan dihidangkan, anjing selalu duduk menunggu, itu ciri Orang-orang Fakir. Kesepuluh, anjing saat mengembara tidak pernah menengok ke tempat asalnya, itulah tanda dan ciri Musafir ruhani sejati.”

“Demikianlah, wahai para murid, bahwa sejatinya kita harus bersukacita dan bersyukur saat digolongkan orang sebagai anjing sebagaimana dimaksud Allah SWT dalam sabda-Nya, sehingga kita sadar diri. Sebaliknya, kita harus menyesal dan berdukacita jika kita secara sepihak menggolongkan diri sendiri sebagai orang beriman yang paling benar, tetapi dengan dasar pengakuan diri sendiri seperti dia yang sudah berkata "ana khoiru minhu" yang justru dilaknat Allah (Q.S.Shaad:72),” kata Guru Sufi melangkah pergi, mengajak Dullah, Sufi tua dan tiga orang santri untuk melanjutkan perjalanan pulang ke pesantren. Abab al-Wahab menggeram sambil menghentakkan kaki ke lantai keras-keras, karena ia merasa disindir keras oleh Guru Sufi, dibandingkan dengan makhluk purwakala terkutuk yang sudah mengakui kebenaran dan kemuliaan diri sendiri.

- agus sunyoto -

Amerika Memang Hegemon, Kita Masih Inlander

Selama istirahat minum kopi dan makan singkong goreng dan tahu dan martabak, tiba-tiba Sufi Kenthir mengaku baru saja mendapat SMS dari Aditya, keponakannya yang sedang studi sosiologi di Boston Amerika. Isi SMS mengabarkan bahwa Aditya baru saja mengirim buku tulisan George Friedman yang berjudul America’s Secret War: Inside the Hidden Worldwide Struggle Between America and Its Enemies lewat e-book. “Tapi untuk buku baru itu, kita bahas waktu berikutnya ya,” kata Sufi Kenthir sambil menyantap sepotong martabak,”Aku butuh waktu untuk baca isinya.”

Sufi tua yang terus menyeruput kopi, tanpa mengacu pada buku The Next 1000 Years. A Forecast for the 21st Century karya George Friedman, tiba-tiba mengemukakan pandangan bahwa sejatinya negeri Uncle Sam itu memang sudah merupakan hegemon jika menggunakan teori tatanan dunia-nya Immanuel Wallerstein. “Bahkan dalam fakta,kita bisa melihat dengan riil bagaimana bangsa-bangsa di dunia, baik secara terpaksa atau sukarela tunduk kepada aturan-aturan yang dibikin super power itu,” kata Sufi tua.

Ingin memberi kesempatan kepada Sufi tua mengemukakan pandangan, Guru Sufi memanjangkan waktu istirahat dan meminta Sufi tua untuk melanjutkan pandangannya. “Apa yang membuat sampeyan punya pandangan seperti itu, kang,” kata Guru Sufi ingin penjelasan,”Maksudku, aturan-aturan apa yang dibikin Amerika yang menurut sampeyan dipatuh-tunduki oleh bangsa-bangsa di dunia?”

“Maksudku bukan aturan formal-prosedural seperti ketetapan Dewan Keamanan PBB,’ sahut Sufi tua menerangkan,”Tapi aturan-aturan sistemik-sistematik yang secara sadar dan tidak sadar diikuti bangsa-bangsa di dunia.”

“Contohnya?” tanya Guru Sufi memancing.

“Hegemoni Bahasa Inggris,” tukas Sufi tua.

“Hegemoni Bahasa Inggris?”

“Ya hegemoni bahasa Inggris,” kata Sufi tua menjelaskan,”Di mana secara faktual, Bahasa Inggris tidak saja sudah menjadi “kebutuhan” bersifat internasional, melainkan sudah menjadi gaya hidup bagi bangsa-bangsa di dunia khususnya di negara-negara dunia ketiga. Bahasa Inggris, tidak sekedar dibutuhkan sebagai bahasa antara-bangsa dalam hubungan internasional, melainkan sudah menjadi status simbol bagi masyarakat untuk memposisikan diri dalam stratifikasi sosial. Bahasa Inggris dalam tata pergaulan menempati kedudukan supra-status sebagai bahasa yang representasi mewakili kalangan the have, bisnismen, intelektual, akademisi, dan kalangan terdidik di suatu negara. Sementara bahasa nasional apalagi bahasa daerah di suatu negara, menempati kedudukan infra-status sebagai bahasa rendahan yang representasi mewakili kalangan grass-root, uneducated dan primitive.”

“Ada semacam asumsi umum yang menyatakan bahwa orang-orang yang berkomunikasi dalam bahasa Inggris status sosial dan status budayanya lebih tinggi dibanding orang-orang yang berkomunikasi menggunakan bahasa daerah. Bahkan dalam sebuah pertemuan tahunan suku-suku terasing yang ditandai pertunjukan-pertunjukan seni budaya lokal, kalangan anak mudanya merasa sangat bangga dan sangat yakin diri jika dalam berkomunikasi dengan sesamanya menggunakan bahasa Inggris. Kepada pers mereka ingin memamerkan bahwa kedudukan mereka tidak berada di bawah masyarakat kota, yang hal itu ditunjukkan dengan bukti kemampuan mereka dalam berbahasa Inggris.

“Di negara-negara terbelakang dan miskin, sejauh yang aku tahu, banyak aturan yang dibuat dengan keharusan menggunakan Bahasa Inggris sebagai acuan utama. Untuk orang-orang yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan pasca-sarjana S-2 dan S-3, misal, wajib menyertakan syarat kelulusan TOEFL apalagi jika akan belajar ke luar negeri, khususnya ke Amerika, wajib TOEFL di atas 600. Nah, dengan kedudukan Bahasa Inggris yang superior itu, berbagai jenis pendidikan Bahasa Inggris – mulai formal hingga non formal – berkembang di negara-negara dunia ketiga seperti jamur di musim hujan. Simpulanku, Bahasa Inggris benar-benar menjadi hegemon atas bahasa-bahasa lain di dunia, bahkan telah menjadi ukuran stigmatis bagi penggunanya.”

Guru Sufi ketawa mendengar uraian Sufi tua. Lalu sambil menahan tawa ia berkata,”Soal hegemoni bahasa Inggris itu juga dibahas George Friedman, kang.”

“Lho apa iya toh?” tanya Sufi tua kaget.

“Itu maknanya, fakta-fakta yang dikemukakan Friedman memang riil, termasuk sudah sampeyan fahami sekalipun sampeyan belum membaca buku ini,” kata Guru Sufi menegaskan,”Tetapi, ada sedikit perbedaan antara pandangan sampeyan dengan pandangan Friedman.”

“Soal apa itu?” tanya Sufi tua ingin tahu.

“Kemanfaatan? Maksudnya bagaimana?” tanya Sufi tua penasaran.

“Dengan tumbuh menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan Bahasa Inggris, baik formal maupun non-formal di berbagai negara, maka lembaga-lembaga pendidikan yang profesional akan membutuhkan native speaker. Nah, di tengah pasar kerja dunia yang butuh profesionalitas dan kualitas, Amerika cukup menyediakan warganegaranya dari yang profesional dan berkualitas sampai yang memble dan underdog sebagai native-speaker. Maknanya, warganegara Amerika yang gaptek, geblek, IQ jongkok, kuper, bahkan yang paling goblok dapat menjadi pengajar native-speaker. Karena di lembaga-lembaga pendidikan bahasa di berbagai negara dunia ketiga, yang dibutuhkan adalah native-speaker tanpa dilihat profesionalitas dan kualitasnya,” kata Guru Sufi memaparkan.

“Waduh itu benar sekali, Mbah Kyai,” sahut Didik Suneo yang sudah setahun ikut kursus Bahasa Inggris dan saat ini mengambil program TOEFL,”Mr John, Native-speaker di kursusan saya, gebleknya gak ketulungan. Ditanya ini-itu, gak pernah bisa jawab. Dia selalu berkilah kalau tugasnya adalah native-speaker, tidak yang lain. Jadi fungsi dia tak lebih seperti kaset yang diputar ulang dari waktu ke waktu.”

“Lepas dari geblek, memble, kuper, IQ jongkok, yang pasti native-speaker seperti Mr John itu telah mendongkrak kredibelitas dan popularitas kursusan tempatmu belajar. Soalnya, bagai orang-orang bermental inlander sepewrti kebanyakan sebangsa kita, keberadaan native-speaker yang kulit putih sudah merupakan trade mark tersendiri yang menunjuk pada profesionalitas dan kualitas kursusan. Jadi mahal pun tidak masalah asalkan ada bule yang jadi native-speaker,” kata Guru Sufi.

“Jadi kita ini sebenarnya korban hegemoni, begitukah Mbah Kyai?” kata Didik Suneo dengan nada tanya.

“Ya seperti itulah.”

“Kenapa bisa seperti itu, Mbah Kyai?”

“Masyarakat bermental agraris yang sombong dan suka pamer ditambah jiwa kerdil yang masih menyisakan mentalitas bangsa terjajah, memungkinkan keadaan re-colonialism dalam berbagai aspek terjadi sebagai keniscayaan,” sahut Guru Sufi.

“Berarti kita ini belum merdeka. Mbah Kyai?” tanya Didik Suneo penasaran.

“Secara fisik, kita sudah merdeka. Tapi mentalitas kebanyakan kita, masih sangat terjajah.Mentalutas kebanyakan kita masih inlander.”


- agus sunyoto -

10 Tulah Tuhan dan Kebohongan Raja Pembohong

Gara-gara kampungnya diserbu ulat bulu, isteri Sukirin yang phobi ulat membawa tiga orang anaknya untuk mengungsi ke pesantren. Sekalipun tidur beralas tikar, kamar pesantren terasa seperti surga daripada kasur empuk dirayapi ulat bulu yang mengerikan. Baru sehari tinggal di pesantren, tiga-empat orang kerabat isteri Sukirin menyusul dengan alasan sama: phobia ulat!

Bermula dari cerita-cerita mengerikan tentang ulat-ulat bulu yang dibawa para perempuan phobia ulat itu, dalam pengajian Asapon malam Aboge Guru Sufi banyak dicecar jama’ah dengan pertanyaan-2 sekitar pageblug ulat bulu. Bahkan tidak kurang yang mengkait-kaitkan pertanyaan dengan barisan bencana yang beriring-iringan seperti tsunami, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran, angin puting beliung,kecelakaan massal, ulat bulu. Sebagaimana lazimnya orang awam yang suka otak-atik mathuk, rangkaian peristiwa yang seperti susul-menyusul itu dihubungkan dengan azab Tuhan. Sukirin yang tertekan akibat maraknya ulat bulu, meminta penjelasan Guru Sufi tentang peristiwa-peristiwa yang membingungkan itu. “Apa yang sebenarnya terjadi, Pak Kyai, dengan bencana-bencana yang seperti berbaris mendatangi bangsa kita ini. Apakah semua ini fenomena alam biasa atau azab Tuhan?” tanya Sukirin ingin penjelasan.

Guru sufi yang tidak mau menilai suatu peristiwa berdasar cara pikir otak-atik mathuk menjawab bahwa ia tidak bisa menentukan sikap untuk menilai apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan peristiwa bencana yang terjadi secara beruntun itu. “Terus terang, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah semata. Hanya Allah yang tahu apakah peristiwa bencana itu fenomena alam biasa atau azab. Saya tidak tahu apa-apa, karena saya bukan Tuhan,” kata Guru Sufi apa adanya.

“Tapi Pak Kyai,” sahut Sukirin terus bertanya berusaha memperoleh jawaban,”Pernahkah dalam kisah Agama ada peristiwa seperti sekarang ini? Maksud saya, adakah kisah umat-umat terdahulu yang diserbu bencana susul-menyusul dan sambung-menyambung seperti dialami bangsa kita sekarang ini?”

“Kalau cerita Agama ada,” jawab Guru Sufi tak bisa mengelak.

“Kisah tentang umat Nabi siapakah yang pernah ditimpa bencana berurutan seperti sekarang ini, wahai Pak Kyai?” tanya Sukirin ingin jawaban pasti.

“Itu kisah terjadi pada masa Nabi Musa AS dan dicurahkan atas Fir’aun dan rakyat Mesir.”

“Maaf Pak Kyai, setahu saya Fir’aun itu diazab Allah dengan ditenggelamkan ke dasar laut bersama-sama dengan pasukannya,” sahut Sukirin ingin tahu.

“Sebelum Fir’aun dan pasukannya ditenggelamkan, Allah terlebih dulu menjatuhkan sepuluh tulah atas Fir’aun dan rakyat Mesir. Karena tetap bergeming diingatkan dengan tulah, akhirnya Fir’aun dan balatentaranya ditenggelamkan di di laut,” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Sepuluh tulah?” Sukirin mengerutkan kening,”Apa sajakah kesepuluh tulah itu, pak Kyai?”

“Pertama-tama, “ Guru Sufi mulai menjelaskan,”Air di seluruh mesir berubah menjadi darah. Ikan-ikan di sungai mati. Air sungai berbau busuk. Tapi tukang sihir Fir’aun meyakinkan bahwa itu adalah peristiwa alam biasa. Yang kedua, berpuluh-puluh juta katak merayap dari sungai memasuki istana, rumah pegawai, rumah rakyat, bahkan merayap di pemanggangan roti. Bangkai katak bertumpuk-tumpuk seperti bukit-bukit kecil menimbulkan bau busuk dan penyakit. Fir’aun yang ngeri menyaksikan kemunculan katak-katak itu memohon kepada Musa AS agar berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan menyingkirkan katak-katak itu. Fir’aun berjanji akan memenuhi keinginan Musa AS. Namun setelah Musa AS memenuhi keinginan Fir’aun, raja Mesir ketawa-ketawa menertawakan kebodohan Musa AS yang gampang dibohonginya.”

Tulah yang ketiga, Allah menaburkan bermiliar-miliar nyamuk ke segenap penjuru negeri Mesir laksana tebaran debu. Dengan ganas nyamuk-nyamuk itu mengerumuni binatang dan manusia. Orang-orang bergelimpangan mati akibat penyakit yang disebar nyamuk. Bangkai hewan yang tewas dikerumuni nyamuk bergelimpangan menebarkan bau busuk. Para tukang sihir menyatakan bahwa nyamuk-nyamuk itu menyerang sebagai tindakan Tuhan. Namun Fir’aun bergeming mengakui kesalahan.”

“Tulah yang keempat, Allah menghamburkan berpuluh miliar lalat pikat memenuhi negeri Mesir. Desa-desa sampai istana penuh lalat pikat. Rakyat Mesir sangat menderita, karena telur-telur lalat pikat itu saat menetas menjadi bermiliar-miliar ulat sebelum jadi lalat. Fir’aun memanggil Musa AS dan Harun AS. Fir’aun meminta agar dua bersaudara itu memohon kepada Tuhan untuk menyingkirkan lalat-lalat pikat itu. Seperti biasa, Fir’aun berjanji akan memenuhi keinginan Musa AS, membebaskan Bani Israil dari perbudakan. Dan saat nyamuk menghilang, Fir’aun ingkar janji dan menertawakan lagi Musa AS yang kena lagi dibohonginya.”

“Tulah yang kelima, Allah menurunkan kuman dan bakteri campak yang menyerang seluruh binatang orang Mesir. Kuda, keledai, unta, lembu, domba, kambing, dan hewan peliharaan lain bergelimpangan mati terkena campak. Bangkai hewan bergelimpangan menebarkan bau busuk. Tulah yang keenam, Allah menebarkan bara ke seluruh penjuru negeri Mesir. Debu yang berterbangan di seluruh mesir dari hitam menjadi merah menyala. Tapi Fir’aun bergeming.”

“Tulah yang ketujuh, Allah menurunkan hujan es yang membinasakan ternak dan segala tumbuhan. Orang-orang Mesir pun bergelimpangan tewas dihantam hujan es. Lalu Fir’aun meminta agar Musa AS berkenan berdoa kepada Tuhan agar hujan es redah. Fir’aun pun seperti hobby-nya, berjanji akan mengabulkan keinginan Musa AS, yaitu membebaskan Bani Israil dari perbudakan. Namun saat hujan es berhenti, Fir’aun kembali terkekeh-kekeh menertawakan kenaifan Musa AS yang lagi-lagi kena ditipunya.”

“Tulah yang kedelapan, Allah mendatangkan bermiliar-miliar belalang yang menutupi permukaan bumi hingga orang tidak lagi melihat tanah. Seluruh tumbuhan habis dimakan belalang. Mesir tidak ada lagi pohon hidup. Fir’aun yang takut, meminta lagi agar Musa AS memohon kepada Tuhan untuk menghalau belalang-belalang itu. Fir’aun pun berjanji akan memenuhi keinginan Musa AS, melepaskan Bani Israil dari perbudakan. Dan seperti pepatah Jawa – Ciri wanci ginowo mati – untuk kali ke sekian setelah belalang-belalang hilang dari Mesir, Fir’aun berbohong lagi. Kembali ia ketawa-ketiwi, menertawakan kepolosan Musa AS yang masih bisa dibohonginya.”

“Tulah yang kesembilan, Allah membuat Mesir gelap gulita selama tiga hari. Orang tidak bisa melihat apa pun saat itu, bahkan melihat tangannya sendiri pun tidak bisa. Tapi Fir’aun tetap bergeming. Lalu Allah pun menjatuhkan tulah kesepuluh, yaitu membunuh seluruh anak sulung Mesir. Demikianlah, anak sulung Fir’aun pun mati. Anak sulung pelayan Fir’aun mati. Seluruh anak sulung mesir mati, termasuk anak sulung hewan. Musa AS yang tidak percaya lagi dengan apa pun yang diucapkan pembohong besar seperti Fir’aun tak menggubris apa pun yang dikatakan maharaja dusta itu. Demikianlah, Musa AS atas permintaan rakyat Mesir, meninggalkan Mesir bersama Bani Israil.”

“Pak Kyai,” kata Sukirin penasaran,”Saya baru tahu sekarang ini kalau Fir’aun itu selain sombong, suka dipuja-puji, mencitrakan diri sebagai yang paling suci, ternyata juga seorang pembohong nomor wahid. Pantas negerinya dijatuhi tulah oleh Allah, karena kelakuannya sangat mencederai citra seorang raja yang wajib menjauhi sifat-sifat tercela terutama: BOHONG!”

“Tapi Anda tidak bisa menimpakan kesalahan atas tulah itu semata-mata kepada Fir’aun,” kata Guru Sufi menukas,”Sebab rakyat Mesir telah ikut bersalah, telah menjadikan dan mendukung Fir’aun sebagai junjungan mereka. Itu sebabnya, mereka juga terkena tulah Tuhan karena telah dengan sengaja menjadikan PEMBOHONG besar sebagai raja mereka.”

Gara-gara kampungnya diserbu ulat bulu, isteri Sukirin yang phobi ulat membawa tiga orang anaknya untuk mengungsi ke pesantren. Sekalipun tidur beralas tikar, kamar pesantren terasa seperti surga daripada kasur empuk dirayapi ulat bulu yang mengerikan. Baru sehari tinggal di pesantren, tiga-empat orang kerabat isteri Sukirin menyusul dengan alasan sama: phobia ulat!

Bermula dari cerita-cerita mengerikan tentang ulat-ulat bulu yang dibawa para perempuan phobia ulat itu, dalam pengajian Asapon malam Aboge Guru Sufi banyak dicecar jama’ah dengan pertanyaan-2 sekitar pageblug ulat bulu. Bahkan tidak kurang yang mengkait-kaitkan pertanyaan dengan barisan bencana yang beriring-iringan seperti tsunami, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran, angin puting beliung,kecelakaan massal, ulat bulu. Sebagaimana lazimnya orang awam yang suka otak-atik mathuk, rangkaian peristiwa yang seperti susul-menyusul itu dihubungkan dengan azab Tuhan. Sukirin yang tertekan akibat maraknya ulat bulu, meminta penjelasan Guru Sufi tentang peristiwa-peristiwa yang membingungkan itu. “Apa yang sebenarnya terjadi, Pak Kyai, dengan bencana-bencana yang seperti berbaris mendatangi bangsa kita ini. Apakah semua ini fenomena alam biasa atau azab Tuhan?” tanya Sukirin ingin penjelasan.

Guru sufi yang tidak mau menilai suatu peristiwa berdasar cara pikir otak-atik mathuk menjawab bahwa ia tidak bisa menentukan sikap untuk menilai apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan peristiwa bencana yang terjadi secara beruntun itu. “Terus terang, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah semata. Hanya Allah yang tahu apakah peristiwa bencana itu fenomena alam biasa atau azab. Saya tidak tahu apa-apa, karena saya bukan Tuhan,” kata Guru Sufi apa adanya.

“Tapi Pak Kyai,” sahut Sukirin terus bertanya berusaha memperoleh jawaban,”Pernahkah dalam kisah Agama ada peristiwa seperti sekarang ini? Maksud saya, adakah kisah umat-umat terdahulu yang diserbu bencana susul-menyusul dan sambung-menyambung seperti dialami bangsa kita sekarang ini?”

“Kalau cerita Agama ada,” jawab Guru Sufi tak bisa mengelak.

“Kisah tentang umat Nabi siapakah yang pernah ditimpa bencana berurutan seperti sekarang ini, wahai Pak Kyai?” tanya Sukirin ingin jawaban pasti.

“Itu kisah terjadi pada masa Nabi Musa AS dan dicurahkan atas Fir’aun dan rakyat Mesir.”

“Maaf Pak Kyai, setahu saya Fir’aun itu diazab Allah dengan ditenggelamkan ke dasar laut bersama-sama dengan pasukannya,” sahut Sukirin ingin tahu.

“Sebelum Fir’aun dan pasukannya ditenggelamkan, Allah terlebih dulu menjatuhkan sepuluh tulah atas Fir’aun dan rakyat Mesir. Karena tetap bergeming diingatkan dengan tulah, akhirnya Fir’aun dan balatentaranya ditenggelamkan di di laut,” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Sepuluh tulah?” Sukirin mengerutkan kening,”Apa sajakah kesepuluh tulah itu, pak Kyai?”

“Pertama-tama, “ Guru Sufi mulai menjelaskan,”Air di seluruh mesir berubah menjadi darah. Ikan-ikan di sungai mati. Air sungai berbau busuk. Tapi tukang sihir Fir’aun meyakinkan bahwa itu adalah peristiwa alam biasa. Yang kedua, berpuluh-puluh juta katak merayap dari sungai memasuki istana, rumah pegawai, rumah rakyat, bahkan merayap di pemanggangan roti. Bangkai katak bertumpuk-tumpuk seperti bukit-bukit kecil menimbulkan bau busuk dan penyakit. Fir’aun yang ngeri menyaksikan kemunculan katak-katak itu memohon kepada Musa AS agar berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan menyingkirkan katak-katak itu. Fir’aun berjanji akan memenuhi keinginan Musa AS. Namun setelah Musa AS memenuhi keinginan Fir’aun, raja Mesir ketawa-ketawa menertawakan kebodohan Musa AS yang gampang dibohonginya.”

Tulah yang ketiga, Allah menaburkan bermiliar-miliar nyamuk ke segenap penjuru negeri Mesir laksana tebaran debu. Dengan ganas nyamuk-nyamuk itu mengerumuni binatang dan manusia. Orang-orang bergelimpangan mati akibat penyakit yang disebar nyamuk. Bangkai hewan yang tewas dikerumuni nyamuk bergelimpangan menebarkan bau busuk. Para tukang sihir menyatakan bahwa nyamuk-nyamuk itu menyerang sebagai tindakan Tuhan. Namun Fir’aun bergeming mengakui kesalahan.”

“Tulah yang keempat, Allah menghamburkan berpuluh miliar lalat pikat memenuhi negeri Mesir. Desa-desa sampai istana penuh lalat pikat. Rakyat Mesir sangat menderita, karena telur-telur lalat pikat itu saat menetas menjadi bermiliar-miliar ulat sebelum jadi lalat. Fir’aun memanggil Musa AS dan Harun AS. Fir’aun meminta agar dua bersaudara itu memohon kepada Tuhan untuk menyingkirkan lalat-lalat pikat itu. Seperti biasa, Fir’aun berjanji akan memenuhi keinginan Musa AS, membebaskan Bani Israil dari perbudakan. Dan saat nyamuk menghilang, Fir’aun ingkar janji dan menertawakan lagi Musa AS yang kena lagi dibohonginya.”

“Tulah yang kelima, Allah menurunkan kuman dan bakteri campak yang menyerang seluruh binatang orang Mesir. Kuda, keledai, unta, lembu, domba, kambing, dan hewan peliharaan lain bergelimpangan mati terkena campak. Bangkai hewan bergelimpangan menebarkan bau busuk. Tulah yang keenam, Allah menebarkan bara ke seluruh penjuru negeri Mesir. Debu yang berterbangan di seluruh mesir dari hitam menjadi merah menyala. Tapi Fir’aun bergeming.”

“Tulah yang ketujuh, Allah menurunkan hujan es yang membinasakan ternak dan segala tumbuhan. Orang-orang Mesir pun bergelimpangan tewas dihantam hujan es. Lalu Fir’aun meminta agar Musa AS berkenan berdoa kepada Tuhan agar hujan es redah. Fir’aun pun seperti hobby-nya, berjanji akan mengabulkan keinginan Musa AS, yaitu membebaskan Bani Israil dari perbudakan. Namun saat hujan es berhenti, Fir’aun kembali terkekeh-kekeh menertawakan kenaifan Musa AS yang lagi-lagi kena ditipunya.”

“Tulah yang kedelapan, Allah mendatangkan bermiliar-miliar belalang yang menutupi permukaan bumi hingga orang tidak lagi melihat tanah. Seluruh tumbuhan habis dimakan belalang. Mesir tidak ada lagi pohon hidup. Fir’aun yang takut, meminta lagi agar Musa AS memohon kepada Tuhan untuk menghalau belalang-belalang itu. Fir’aun pun berjanji akan memenuhi keinginan Musa AS, melepaskan Bani Israil dari perbudakan. Dan seperti pepatah Jawa – Ciri wanci ginowo mati – untuk kali ke sekian setelah belalang-belalang hilang dari Mesir, Fir’aun berbohong lagi. Kembali ia ketawa-ketiwi, menertawakan kepolosan Musa AS yang masih bisa dibohonginya.”

“Tulah yang kesembilan, Allah membuat Mesir gelap gulita selama tiga hari. Orang tidak bisa melihat apa pun saat itu, bahkan melihat tangannya sendiri pun tidak bisa. Tapi Fir’aun tetap bergeming. Lalu Allah pun menjatuhkan tulah kesepuluh, yaitu membunuh seluruh anak sulung Mesir. Demikianlah, anak sulung Fir’aun pun mati. Anak sulung pelayan Fir’aun mati. Seluruh anak sulung mesir mati, termasuk anak sulung hewan. Musa AS yang tidak percaya lagi dengan apa pun yang diucapkan pembohong besar seperti Fir’aun tak menggubris apa pun yang dikatakan maharaja dusta itu. Demikianlah, Musa AS atas permintaan rakyat Mesir, meninggalkan Mesir bersama Bani Israil.”

“Maaf Pak Kyai,” kata Sukirin penasaran,”Saya baru tahu sekarang ini kalau Fir’aun itu selain sombong, suka dipuja-puji, selalu mencitrakan diri sebagai yang paling suci dan mahakuasa, ternyata juga seorang pembohong nomor wahid. Jika boleh tahu, dari sumber manakah Pak Kyai mendapat informasi jika Fir'aun itu seorang pembohong besar?"

"Aku memperoleh sumber dari Bible-nya Yahudi, kitab Keluaran," kata Guru Sufi

"Berarti shahih sumber itu. Pantas negerinya dijatuhi tulah oleh Allah, karena kelakuannya sangat mencederai citra seorang raja yang wajib menjauhi sifat-sifat tercela terutama: BOHONG! Memalukan ada raja kok suka BOHONG!”

“Tapi Anda tidak bisa menimpakan kesalahan atas tulah itu semata-mata kepada Si Fir’aun, pembohong,” kata Guru Sufi menukas,”Sebab rakyat Mesir yang juga ikut bersalah, karena telah menjadikan dan mendukung Fir’aun sebagai junjungan mereka. Itu sebabnya, rakyat Mesir ikut terkena tulah Tuhan karena mereka telah dengan sengaja menjadikan seorang pembohong sebagai raja mereka.”

- agus sunyoto -

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...