Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan

29 April 2011

peristiwa internasional yang mempengaruhi indonesia

Tahun

Peristiwa internasional

Pengaruh pada nasional

catatan

1890-an

Muncul konsep Negara bangsa oleh Ernest reenan yang menyebabkan berdirinya Negara bangsa di eropa

1899

Pemerintah hindia belanda memberlakukan politik etis di hindia belanda

Berdampak pada munculnya beberapa inteletual muda yang bersentuhan dengan pemikiran barat, termasuk tentang nasionalisme

1908 - 1926

Berdiri berbagai macam organisasi di hindia belanda ( island people ) seperti BO, SI, NU, dsb

1917

Revolusi Bolshevik soviet

Lihat pemberontakan komunis di Indonesia tahun 1926 dan 1948

1918

Muncul perang dunia I diantara berbagai Negara bangsa eropa

Terjadi sebagai dampak munculnya Negara bangsa eropa dan perebutan Negara jajahan di asia dan afrika

1926

Pemberontakan partai komunis hindia belanda

Pemberontakan ini banyak diilhami oleh terjadinya revolusi Bolshevik di uni soviet, sejak itu banyak tokoh Indonesia yang melakukan kontak dengan uni soviet

1928

Terjadi kristalisasi konsep kebangsaan di kalangan masyarakat Indonesia yang tercermin dalam peristiwa soempah pemoeda

1930-an

Terjadi resesi ekonomi di Negara – Negara kapitalis yang menyebabkan terjadinya konflik antar mereka dalam memperebutkan Negara jajahan. Terjadinya konsolidasi diantara mereka yang menyebabkan timbulnya blok axis ( jepang & jerman ) dan allies ( sekutu )

Pada saat ini AS mulai menyusun konsep sosiologi untuk membuat rekayasa social yang akan diterapkan di Negara jajahan sosiolog yang menyusun konsep ini adalah Talcott Parsons

1939 - 1945

Terjadi perang dunia II antara sekutu melawan Axis

Konsolidasi untuk merealisasikan konsep Negara bangsa

1944

Pertemuan Bretton woods yang menghasilkan kesepakatan dibentuknya PBB, World Bank, IBRD, IMF, dan GATT

Lembaga – lembaga ini dibentuk sebagai antisipasi atas kemerdekaan Negara – Negara jajahan. Kebijakan inilah yang memicu tumbuhnya perusahaan – perusahaan besar Negara maju dan mulai merambah ke Negara – Negara berkembang. Inilah yang disebut MNC ( Multi National Coorporation ) dan TNC ( Trans National Coorporation ).

1945

PBB berdiri, ditanda tangani deklarasi HAM

Muncul Negara bangsa Indonesia melalui Proklamasi kemerdekaan RI dengan memanfaatkan kondisi konflik internasional.

Pada decade ini, setelah ada PBB dan piagam HAM banyak Negara jajahan yang memperoleh kemerdekaan.

Okt 1945

keluar resolusi jihad dari NU yang berisi seruan perang suci untuk menghadapi serangan serangan sekutu. Seruan ini diambil karena tidak ada tindakan tegas dari TNI untuk menghadapi serangan sekutu yang ingin merebut kembali NKRI

Seruan ini membangkitkan semangat perjuangan umat islam ( NU ) hingga menyebabkan berkobarnya pertarungan di berbagai tempat khususnya di Surabaya yang melahirkan peristiwa 10 november yang kemudian dikenal dengan hari pahlawan nasional

1948

Presiden AS melakukan pertemuan dengan para pakar di MIT untuk membahas strategi mengendalikan Negara – Negara yang baru merdeka, di sepakati penerapan ideology developmentalisme di Negara berkembang

Dengan diterapkannya ideology developmentalisme maka diberlakukanlah konsep ekonomi pertumbuhan dari WW. Rostow dan sosiologi struktualisme fungsional dari Talcott Parsons

1948

Partai komunis cina di bawah pimpinan Mao Ze Dong merebut kekuatan di cina daratan setelah mengalahkan jepang dan partai nasionalis cina

Terjadi pemberontakan PKI

Munculnya berbagai gejolak di Indonesia pada masa awal kemerdekaan hingga runtuhnya Soekarno ditengarai sebagai dampak perebutan pengaruh dari AS sebagai wakil kapitalisme dan US sebagai wakil komunisme yang sedang terlibat dalam perang dingin setelah PD II

Lihat pemberontakan G-30 S/ PKI tahun 1965 di indonesia

Nov.1949

Keluar UUD RIS

Jan 1950 sd 1958

Muncul gerakan separatis di Indonesia di mulai dari Negara pasundan dan di akhiri PRRI / Permesta.

1955

Dilaksanakan pemilu yang pertama setelah Indonesia merdeka

Dalam pemilu ini partai besar diperoleh PNI NU, masyumi dan PKI NU memperoleh suara 18%. Tiga kekuatan : PKI, NU,PNI akhirnya menjadi kekuatan penyangga bung karno. Hasil pemilu ini membuat maneuver politik Negara kapitalis ( AS ) di Indonesia semakin meningkat.

1955

Konfrensi ASIA AFRIKA di bandung

Konfrensi ini diprakarsai oleh bung karno sebagai respon atas tekanan Negara – Negara kapitalis terhadap Negara asia afrika yang baru saja merdeka

1955 - 1965

Perang dingin makin meningkat, khususnya setelah Negara – Negara di belahan Asteng ( kamboja, korea ) berhasil jatuh ke tangan blok komunisme

Konflik dan intrik antar kelompok makin meningkat khususnya ABRI, PKI, Masyumi

1960-an

Rostow dan Parson meluncurkan sebuah buku yang berisi tentang konsep sosio – ekonomi yang harus diterapkan di dunia ketiga. Buku ini selanjutnya menjadi acuan barat dalam melakukan social engineriing di Negara – Negara berkembang.

Dengan diterapkannya konsep sosio ekonomi Rostow, maka perusahaan – perusahaan MNC dan TNC mulai berkembang pesat di berbagai belahan dunia termasuk di Negara – Negara dunia ketiga

1962

Presiden AS JF Kennedy mati ditembak

Sejak saat itu politik AS bergerak ke kanan sehingga menyebabkan gerakan ultra kanan mulai bermunculan di daerah Satelit Amerika

1965

Terjadi gerakan G30 S/PKI yang mengantarkan soeharto menjadi presiden

Tragedy ini terjadi atas campur tangan AS

1968

Diterapkan kebijakan developmentalisme di indonesia

Hal ini menandai kemenangan kapitalisme di Indonesia. Secara sosiologis konsep parsons dengan strukturalisme fungsional dijalankan, juga konsep ekonomi pertumbuhan yang di gagas Rostow. Rekayasa social untuk mengokohkan modernism dengan menyingkirkan kelompok tradisional

1974

Terjadi peristiwa malari

Peristiwa ini di dalangi AS, sebagai respons atas dominasi modal jepang di indonesia

1 974

Negara – Negara komunisme mulai memperkuat pengaruhnya di asia tenggara khususnya di Vietnam, Portugal meninggalkan timor timur

Penyerbuan ke timor timur melalui operasi seroja mulai dilakukan setelah kunjungan Presiden dan Menlu AS ke Indonesia

Hal ini dilakukan sebagai respon atas sikap Portugal yang cenderung memihak komunisme sehingga dikhawatirkan timor timur akan menjadi pangkalan penyebaran kelompok komunis, juga sebagai sinyal AS pada US

1978

Revolusi islam iran yang di pimpin Ayatulloh Khomeini, berhasil meruntuhkan rezim Syah Iran sehingga memancing Negara – Negara barat

Revolusi ini menjadi acuan gerakan fundamentalisme islam seluruh dunia

1988

Lahir kebijakan Pakto 88 yang berisi liberalisasi sector perbankan

Kebijakan ini telah menyebabkan berdirinya bank – bank swasta secara besar – besaran sehingga menyebabkan terjadinya kredit macet yang cukup besar yang merusak fundamen ekonomi nasional

1989

Tembok berlin di Jerman jebol, karena gerakan reformasi menuntut jerman bersatu

Gerakan ini menandai runtuh dan gagalnya ideology komunisme

1990

Uni Soviet runtuh diikuti Negara – Negara komunis di Eropa timur

Runtuhnya UNi Soviet tidak bisa lepas dari peran Amerika yang melakukan tekanan atas mata uang rubel dan embargo suplai gandum, hal ini menandai berakhirnya dukungan AS pada Indonesia

1991

Diluncurkan buku Third Wave Democratization karya Samuel P. Huntington pada saat yang sama dimulai demiliterisasi satelit AS

1992

AS menutup pangkalan militernya di Philipine

Terjadi proses “ Penghijaun Politik “ oleh ICMI.

Pemerintah membentuk Panitia Kredit Luar Negri ( PKLN ) . panitia ini dibentuk untuk menahan agar BUMN tidak terjebak pada hutang luar negri yang berlebihan. Sementara swasta diberi kebebasan untuk membuat utang devisa dengan jaminan Commercial Paper yang berjangka waktu lima tahun

Sebagai gantinya pangkalan militer di Filipina diperkirakan As perlu mencarai pangkalan lain di wilayah Asia Tenggara yang berada di bawah pengaruhnya.

Lihat kerusuhan Aceh dan Ambon tahun 1999

Proses ini berpijak pada semangat fundamentalisme islam sebagaimana terjadi dalam revolusi iran

Kredit ini sengaja diberikan Negara kapitalis pada acara pengusaha swasta Indonesia dengan tujuan untuk mengurangi bantuan, juga sebagai persiapan untuk melakukan ekspansi bisnis dengan cara mengambil alih saham perusahaan yang tidak bisa membayar hutang

1994

Desakan agar modal asing dapat membeli saham 100% di bursa efek dan tuntutan HGU atas tanah di perpanjang menjadi satu abad

1994

Seorang intelektual AS, Samuel P. Hungtington mengarang buku yang berjudul “ Clash of Civilization “. Dalam waktu yang bersamaan Anthony Giddens mengarang buku yang berjudul “ Beyond Left and Right “ dan kemudian buku “ The Third Way “

Kedua buku ini memprediksi kondisi social masyarakat pasca perang dingin. Hungtington menyatakan akan terjadi benturan peradaban antara barat yang terdiri dari WASP ( white anglo-saxon protestan ) dan timur yang terdiri dari islam dan confucianisme. Sedangkan giddens membuat suatu konstruksi social dengan membayangkan kehancuran komunisme dan awal keruntuhan kapitalisme. Konstruksi ini disebutnya sebagai “ jalan ketiga “

1996

Mulai dihembuskannya kampanye anti militer oleh beberapa LSM di indonesia

Hal ini dilakukan oleh kapitalis untuk menyingkirkan militer dari panggung politik Indonesia karena dianggap sudah tidak dibutuhkan lagi.

Pada saat ini berkembang tema tentang masyarakat sipil yang kuat atau Strong civilan domination

1997

Anthony giddens dan R. dahrendof mulai menggagas konsep ideology pasca perang dingin yang mengacu pada terbentuknya supremasi sipil yang terdidik

Dampak dari hal ini adalah munculnya lembaga pendidikan formal yang bekerja sama dengan luar negeri meski lembaga tersebut tidak memiliki kualitas yang baik.

Mulai muncul krisis moneter

Krisis moneter terjadi karena pada tahun ini jangka waktu pengembalian utang luar negeri oleh perusahaan swasta telah jatuh tempo.

Nilai tukar rupiah jatuh secara drastic, akibatnya sector ekonomi riil runtuh total.

1998

Presiden soeharto menandatangani Letter of intent dengan managing director IMF, Michael Camdessus

Presiden Soeharto jatuh, didahului dengan kerusuhan anti cina tanggal 13 – 14 mei

Mulainya pendiktean kebijakan ekonomi Indonesia oleh actor – actor geo-politik dan geo-ekonomi internasional.

Kerusuhan ini sebagai eksperimen dari scenario social hungtington yakni benturan antara islam dan cina. Jatuhnya soeharto juga tidak lepas dari peran AS, yang waktu itu menghadirkan kapal tempurnya di perairan lautan bebas, sedikit di luar garis batas laut wilayah NKRI.

Januari 1999

Mata uang Euro diberlakukan sebagai alat tukar di eropa

Kerusuhan di Ambon terjadi

Mulai terciptanya dunia keuangan tripolar ( US dollar, euro dan yen )

Hal ini diindikasikan sebagai eksperimentasi pemikiran hungtington yang mencerminkan benturan islam dan Kristen.

Juni 1999

Pemilu Multi Partai yang pertama setelah orde baru

Hal ini dimaksudkan sebagai upaya mencari legitimasi untuk mengokohkan sistem yang ada dan mengganti para actor yang akan bermain bermain kelak. Dengan demikian pemilu sebenarnya tak lebih merupakan media pemutihan politik sekaligus alat untuk memperkokoh kapitalisme lanjut di Indonesia.

Juli 1999

Nilai rupiah menguat

Dengan menguatnya nilai rupiah, sector ekspor mengalami kemunduran besar, hal ini menyebabkan kedua pijakan ekonomi Indonesia ( sector riil dan sector ekspor, mengalami kelumpuhan.

Agustus 1999

Dibentuknya AMF ( asian monetary fund ) oleh EAEC ( east asian economy caucus ) yang terdiri dari yen, yuan, won, dan ringgit.

Skandal bank bali diperkirakan ada 3-5 bank lagi dengan masalah sejenis. Nilai tukar rupiah merosot lagi.

Belum dapat diduga apakah AMF ini akan menjadi intitusi mengimbangi IMF ataukah tersubordinasi di bawah IMF

September 1999

Pelelangan asset nasional

Dilakukan BPPN di bawah pengaruh kuat Citibank dan Standard

Chartered Bank.

Oktober 1999

Diselenggarakan siding umum MPR hasil pemilu 1999

Siapapun yang terpilih sebagai presiden akan mengalami kesulitan luar biasa untuk mengangkat kembali perekonomian indonesia

??????

Diperkirakan parpol – parpol akan silih berganti memenangkan pemilu.

Diperkirakan pula akan terbentuk institusi kepala Staf gabungan TNI yang akan dipimpin secara bergantian oleh masing – masing angkatan

Ketika parpol dan TNI tidak mampu melakukan konsolidasi politik maka tidak ada pihak yang mampu membuat kebijakan ek0nomi jangka panjang, sehingga akibatnya perekonomian Indonesia akan dikelola secara adhoc dan didikte oleh pasar modal, pasar financial maupun pasar komoditi.

28 April 2011

Kontroversi Sejarah, R.A.Kartini Pahlawan Wanita Bikinan Belanda

Tulisan ini tidak bermaksud mengecilkan jasa-jasa seorang R.A. Kartini yang turut membangkitkan semangat kaum wanita Indonesia untuk maju. Juga tidak merendahkan penghargaan gelar pahlawan kepada beliau oleh pemerintah. Tapi hanya ingin menyadarkan kita bahwa tidak sepenuhnya sejarah itu mutlak benar, dan apa-apa yang kita yakini kebenarannya saat ini bisa saja sebuah kekeliruan yang harus dikoreksi.

Bermula di tahun 1970-an, ketika itu guru besar Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar mengkritik “pengkultusan” R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta Pustaka Sinar Harapan, 1990 cetakan ke-4), Harsja W. Bachtiar menulis sebuah artikel berjudul: Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut; tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologisnya di Harvard University.

Harsja juga menggugat dengan halus, kenapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut. Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nurudddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu tahun 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun wanita.

Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachtiar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun wanita.

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami-istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini. Abendanon mengunjungi Kartini tiga bersaudara dan kemudian menjadi sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral Belanda, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak. Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. Van Kol dan penganjur Haluan Etika, C.Th. Van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbut terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922, terjemahan Empat Saudara). Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C. Th. Van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang Belanda. Harsja Bachtiar kemudian mencatat; Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka. (docs.google.com)

J.H. Abendanon, Menteri yang menulis buku

J.H. Abendanon (1852-1925) adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda dari tahun 1900-1905. Ia datang ke Hindia-Belanda pada tahun 1900 dan ditugaskan oleh Belanda untuk melaksanakan Politik Etis. Karena baru di Hindia-Belanda, Abendanon tidak mengetahui keadaan masyarakat Hindia-Belanda dan tidak paham bagaimana dan dari mana ia memulai programnya. Untuk keperluan itu, Abendanon banyak meminta nasihat dari teman sehaluan politiknya, Snouck Hurgronje, seorang orientalis yang terkenal sebagai arsitek perancang kemenangan Hindia-Belanda dalam Perang Aceh.

Di bawah Abendanon, sejak tahun 1900 mulai berdiri sekolah-sekolah baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa yang hampir merata di daerah-daerah. Pada tahun ini sekolah Hoofdenscholen (sekolah para kepala) yang lama diubah menjadi sekolah yang direncanakan untuk menghasilkan pegawai-pegawai pemerintahan dan diberi nama baru OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren).

J.H. Abendanon kemudian dikenal sebagai salah satu teman koresponden Kartini dan dialah yang menulis buku berjudul Door Duisternis tot Licht yang diterjemahkan oleh Armyn Pane menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku Door Duisternis tot Licht di terbitkan tahun 1911 oleh pemerintah Belanda. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan anehnya pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini. (Wikipedia)

Snouck Hurgronje dan sepak terjangnya

Di atas disebutkan peran Snouck Hurgronje sebagai teman bertukar pikiran J.H. Abendanon dalam menjalankan politik etis. Siapa Cristiaan Snouck Hurgronje pasti pembaca sudah banyak yang mengetahuinya. Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) adalah seorang pendeta Protestan seperti halnya ayah, kakek, dan kakek buyutnya. Sejak kecilnya Snouck sudah diarahkan pada bidang teologi. Tamat sekolah menengah, dia melanjutkan ke Universitas Leiden untuk mata kuliah Ilmu Teologi dan Sastra Arab di tahun 1875. Lima tahun kemudian, dia tamat dengan predikat cum laude dengan disertasi Het Mekaansche Feest (Perayaan di Mekah). Tak cukup bangga dengan kemampuan bahasa Arabnya, Snouck kemudian melanjutkan pendidikan ke Mekkah tahun 1884. Di Mekkah, keramahannya dan naluri intelektualnya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dan untuk kian merebut hati ulama Mekkah, Snouck memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar.

Namun, pertemuan Snouck dengan Habib Abdurrachman Az-Zahir, seorang keturunan Arab yang pernah menjadi wakil pemerintahan Aceh, kemudian berhasil “dibeli” oleh Belanda dan dikirim ke Mekkah, mengubah minatnya. Atas bantuan Zahir dan Konsul Belanda di Jeddah, JA Kruyt, dia mulai mempelajari politik kolonial dan upaya untuk memenangi pertempuran di Aceh. Setelah saran-sarannya tak ditanggapi Gubernur Belanda di Nusantara, Habib Zahir yang kecewa menyerahkan semua naskah penelitiannya kepada Snouck yang saat itu, tahun 1886, telah menjadi dosen di Leiden.

Snouck seperti mendapat durian runtuh. Naskah itu dia berikan pada kantor Menteri Daerah Jajahan Belanda (Ministerie van Kolonieën). Snouck bahkan secara berani menawarkan diri sebagai tenaga ilmuwan yang akan dapat memberikan gambaran lebih lengkap tentang Aceh.

Pada 1889, dia menginjakkan kaki di pulau Jawa, dan mulai meneliti pranata Islam di masyarakat pribumi Hindia-Belanda, khususnya Aceh. Setelah Aceh dikuasai Belanda, 1905, Snouck mendapat penghargaan yang luar biasa. Setahun kemudian dia kembali ke Leiden, dan sampai wafatnya tanggal 26 Juni 1936, dia tetap menjadi penasehat utama Belanda untuk urusan penaklukan pribumi di Nusantara. (Wikipedia).

Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Giriukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam tahun 1989) P.Sj. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk menaklukan Islam. Untuk mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid Syekh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang Muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Gaffar seperti disebutkan di atas. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalamannya ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouk dalam penyamarannya sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ulama. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai Mufti Hindia Belanda. Juga ada yang memanggilnya Syaikhul Islam Jawa. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam; Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya (hal 116).

Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda (Jakarta, LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya adalah melakukan pembaratan kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka.

Politik Etis, balas budi Belanda atau perlawanan terhadap syiar Islam?

Sebelumnya telah disinggung mengenai Poltik Etis sebagai program pemerintah Belanda yang harus dijalankan oleh J.H. Abendanon sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.

Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa yang diterapkan sebelumnya. Dengan dipelopori oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (seorang politikus), pemikiran ini diterima oleh pemerintah kolonial seperti disebutkan dalam pidato Ratu Wilhelmina pada tanggal 17 September 1901, pada saat baru naik tahta di pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tadi ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam program Trias Politika yang meliputi:

1. Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian

2. Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk transmigrasi

3. Memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan (edukasi).

Namun sayangnya, penjajah tetaplah penjajah, niat baik dari penggagas politik etis ini dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial untuk memperkuat cengkeraman kuku-kuku penjajahannya di bumi Nusantara. Kebijakan pertama dan kedua disalahgunakan oleh Pemerintah Belanda dengan membangun irigasi untuk perkebunan-perkebunan Belanda dan transmigrasi dilakukan dengan memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi. (Wikipedia)

Hanya pendidikan yang berarti bagi bangsa Indonesia, namun ini pun dilakukan dengan memaksakan pemikiran dan budaya Barat ke dalam jiwa orang pribumi dan mencoba menyingkirkan cara pandang Islam yang sudah terlebih dulu tumbuh di sanubari orang Jawa.

Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib Al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara. Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (Bandung: Mizan, 1990, cet.Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini; Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.

Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hugronje?

Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Belanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis;

Salam, Bidadariku yang manis dan baik! … Masih ada lagi satu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut; Apalah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat? Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya. (Buku: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, penerjemah: Sulastin Sutrisno, Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000, hal 234-235).

Pemahaman agama Islam Kartini yang dangkal

Walaupun kakeknya (ayah ibunya, Kyai Haji Madirono, adalah seorang ulama dan guru agama, ternyata pemahamannya tentang agama Islam masih sangat dangkal. Salah satu sebabnya, seperti diakui sendiri oleh Kartini dalam suratnya kepada nona Zeehandelaar, 6 Nopember 1899, adalah pemahamannya tentang Alquran yang sangat kurang karena tidak mengerti isinya.

Lagi pula, sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam. Manakah boleh aku cinta akan agamaku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh aku mengenalnya? Qur’an terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa mana jua pun. Di sini tiada orang yang tahu bahasa Arab. Orang diajar di sini membaca Qur’an, tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Piiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu, orang diajar di sini membaca, tetapi tidak diajarkan makna yang dibacanya itu. Sama saja engkau mengajar aku membaca kitab bahasa Inggris, aku harus hafal semuanya, sedangkan tiada sepatah kata jua pun yang kau terangkan artinya kepadaku. Sekalipun tiada jadi orang saleh,kan boleh juga orang jadi orang baik hati, bukan Stella?

Di bagian lain dari surat itu Kartini menulis:

Ya, Tuhanku, ada kalanya aku berharap, alangkah baiknya jika tidak ada agama itu, karena agama itu, yang sebenarnya harus mempersatukan semua hamba Allah, sejak dari dahulu-dahulu menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, jadi sebab perkelahian berbunuh-bunuhan yang sangat ngeri dan bengisnya.

Keinginan Kartini yang luar biasa untuk bertemu dan berdiskusi dengan Snouck Hurgronje dan kekagumannya dengan sosok orientalis Belanda tersebut, maka tidak tertutup kemungkinan pemikiran Kartini sudah dipengaruhi secara luas oleh pemikiran Snouck yang sebetulnya sangat ingin menjauhkan Islam dari kehidupan orang pribumi. Seperti kebencian Kartini dengan poligami dan lembaga perkawinan, seperti disebutkan pada suratnya kepada nona Zeehandelaar.

Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut hukum Islam, tetapi aku, tetap selama-lamanya aku mengatakan itu dosa.

Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sesangat itu benar benciku akan perkawinan? Kerja yang serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas. Tetapi, tiada suatu jua pun boleh dikerjakan, karena menilik kedudukan Bapak.

Keraguan atas surat-surat Kartini

Secara umum surat-surat R.A. Kartini kepada teman-teman korespondensinya hanya diketahui dari buku J.H. Abendanon. J.H. Abendanon dan istrinya mengaku sebagai salah satu teman korespondensi Kartini, dimana beberapa surat Kartini yang ditujukan kepadanya dan istrinya juga turut dipublikasikan di dalam bukunya itu. Namun sampai sekarang, sebagian besar naskah asli surat-surat Kartini yang dijadikan bahan penulisan buku tersebut maupun jejak J.H. Abendanon sendiri sebagai penulis dan keturunannya belum ditemukan, sehingga ada dugaan sebagian surat-surat Kartini atau isinya direkayasa oleh J.H. Abendanon. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis.

Layakkah Kartini sebagai pahlawan Indonesia?

Seperti halnya beberapa warisan kolonial Belanda lainnya yang sampai sekarang masih dipertahankan dan dijadikan acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, seperti peraturan perundangan-undangan dan hukum, maka kepahlawanan seorang R.A. Kartini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita sebagai bangsa, apakah akan terus dipertahankan atau dikoreksi keberadaannya.

Kalau dibaca secara mendalam surat-suratnya itu, maka Kartini adalah seorang wanita yang tertekan dengan budaya Jawa dan keislamannya, dan ingin melarikan diri daripadanya. Penyesalannya terlahir sebagai anak gadis Jawa terekam dalam suratnya kepada Nyonya Ovink-Soer (Awal tahun 1900):

Aduh alangkah pedihnya, sedihnya rasa hatiku. Sangat sengsaranya menjadi seorang anak gadis Jawa, sedang dia ada berperasaan halus. Ibu bapakku, kasihan, kasihan, nasib celaka manakah yang memberikan kami ini kepadanya jadi anaknya?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...